Jumat, 05 Desember 2008

PEKERJAAN ORANG KAYA

PEKERJAAN ORANG KAYA

”Pilihlah pekerjaan yang Anda cintai, dan percayalah bahwa uang akan datang.”
~ Pandir Karya

”Pekerjaan seperti apa yang menarik hati orang kaya?” tanya saya kepada sejumlah kawan.
”Mana aku tahu,” kata Iin.
”Saya rasa mereka memilih bidang yang dikuasainya,” jawab Toni.
”Umumnya mereka memilih untuk menjadi entrepreneur,” kata Herlina.
”Jadi kontraktor akan lebih cepat kaya,” ujar Didi.
”Di lingkunganku hampir semua orang kaya adalah pedagang,” jelas Diah.
”Pemilik usaha waralaba terkemuka,” kata Rudy.
”Investor yang memutar uangnya di pasar saham,” gagas Yuyun.
”Pekerjaan yang sederhana tapi untungnya luar biasa,” ujar Lilik.
”Mereka cenderung bekerja sendiri, entah sebagai pemilik bisnis atau profesional yang mandiri seperti dokter, pengacara, atau akuntan,” papar Dewi.
”Pekerjaan yang mendatangkan banyak uang,” kata Indra.

***

Apakah jenis pekerjaan yang dipilih oleh orang-orang kaya? Apakah ada pekerjaan tertentu yang kalau ditekuni akan membuat kita pasti menjadi kaya raya? Seberapa besar pengaruh pilihan jenis pekerjaan dalam membawa seseorang menjadi orang kaya? Apakah karyawan juga benar-benar bisa kaya seperti digembar-gemborkan sejumlah penulis di Indonesia akhir-akhir ini?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat saya kembali teringat kepada Handi Irawan. Pendiri sekaligus pemilik Frontier Consulting Group ini pernah menyebutkan bahwa dari 200.000 orang kaya Indonesia yang memiliki dana likuid di perbankan sejumlah Rp 1 miliar ke atas, 50-55 persen di antaranya adalah kaum pedagang. Sebagian lagi datang dari kaum profesional seperti pengacara, dokter, dan konsultan papan atas (8-10 persen), manajemen atau eksekutif puncak perusahaan papan atas (9-10 persen), pemilik bisnis jasa (5-7 persen), pemilik korporat raksasa, importir/eksportir raksasa, dan investor kelas kakap, dan lain-lain. Dengan kata lain, saluran terbesar yang membawa orang pada kekayaan finansial adalah menjadi pedagang dan pemilik bisnis.

Namun, sebaiknya kita tidak terburu-buru berpikir bahwa untuk menjadi kaya, cara yang terbaik adalah menjadi pedagang dan pemilik bisnis. Sebab bagaimanapun juga, dengan pikiran yang tenang kita akan menyaksikan bahwa di negeri ini ada lebih banyak pedagang dan pemilik bisnis (kecil-menengah) yang tidak kaya ketimbang yang sungguh-sungguh kaya. Karena itu kampanye provokatif dengan slogan seperti ”Kalau mau kaya jangan lama-lama jadi karyawan” harus disikapi dengan kepala dingin. Paling tidak perlu diingat bahwa jika data yang disebut Handi Irawan akurat, maka sekitar satu dari sepuluh orang kaya di indonesia berstatus resmi sebagai karyawan (baca: manajer-eksekutif).

Dalam buku The Milionaire Mind, yang memuat studi yang mendalam mengenai sosok, sepak terjang, gaya hidup, dan segala sesuatu mengenai orang-orang kaya di Amerika Serikat, Thomas J. Stanley menulis: ”Kategori pemilik bisnis adalah kelompok paling besar dalam populasi milyarder, tetapi sebagian besar pemilik bisnis di Amerika bukan milyarder, dan mereka juga tidak akan menjadi milyarder sepanjang hidupnya. Sudah jelas, memiliki bisnis bukan jaminan absolut untuk menjadi kaya, tetapi pemilik bisnis dapat cukup memperbesar kemungkinan menjadi milyarder dengan pemilihan bisnis yang hati-hati” (cetak miring penulis).

c